Notification

×

Iklan

Iklan

Analisis Pergerakan Politik di Dunia Kemahasiswaan

Sabtu, 29 Oktober 2022 | Oktober 29, 2022 WIB | 0 Views Last Updated 2022-10-30T05:18:28Z

Muhammad Anhar, Dok (Istimewa)
Oleh : Muhammad Anhar*

Kabupaten Bima, SinarNTB.Com - Pergerakan politik dalam dunia kemahasiswaan, bermuara dalam berbagai arah, melalui beragam kontiguitas. Dinamika persaingan antara berbagai pemikiran dan perbedaan pilihan menjadi warna tersendiri dalam perseteruan politik. Mahasiswa berkiprah dalam konstelasi tersebut, tentu, dengan berbagai peran sesuai kehendak prinsip yang di embannya.

Diakhir tahun ini, Stikes Yahya Bima akan melangsungkan pemilu raya. Pemilihan yang akan digelar terdiri dari BEM, DPM, dan HMJ. Kontestasi ini, sangat menarik untuk dicermati dan dianalisis pergelaran tersebut. Karena itu, sangat penting dalam melihat arah serta langkah yang dibangun oleh figur-figur yang tampil dan bertarung untuk memenangkan jatah kursi kepemimpinan. Pasalnya, dalam dunia politik, khsusunya saat perhelatan pemilu raya mahasiswa, tidak terlepas dari berbagai kepentingan ada yang berjalan terbuka dan ada yang tertutup. Ada yang bermain seadanya dan ada pula yang menyusup ke baris pertahanan. 

Disisi lain, tidak sedikit yang berasal dari oknum tertentu, seperti partai, mafia, dan lain sebagainya, dengan mengutus agen yang berstatus mahasiswa untuk bermain di dalamnya. Bahkan, ada dari sikap individu mahasiswa sendiri yang berangkat dari pemikiran yang dianutnya. Dengan demikian, politik, dengan sistem kepentingan tertentu dan membawa berbagai misi dan issu yang tidak sehat dan menyesatkan merupakan ancaman yang sangat berbahaya bagi kehidupan lembaga mahasiswa, karena itu, semua harus melawan kedzolimannya.

Karakter-karakter yang seperti itu, apabila terpilih, sudah pasti akan merusak idealisme dan integritas kelembagaan. Sebab, konsep yang dijalankan ialah atas bisikan big boss atau hasrat hedonis semata dan ia cenderung egoisme. Sesungguhnya, fenomena tersebut telah melilit dunia kampus di Indonesia. Di Stikes Yahya Bima sendiri, tercium dan terlihat sangat kuat dan nyata bahwa permainannya seperti demikian.

Persoalan tersebut, diperparah oleh dilema kelembagaan yang nihil kegiatan mahasiswa yang bersifat pedagogis. Tidak ada konsep, nihil karya dan tersandera keegoisan semata. Karena itu, sebagai seorang mahasiswa yang mendapatkan predikat intelektual harus menghindari para pemimpin komprador, tujuanya adalah untuk mengabrasi krisis yang telah terjadi. Selebihnya adalah untuk menyelamatkan kelembagaan mahasiswa dari keruntuhan marwahnya.

Kategori Figur yang Tepat

Figur-figur pemimpin yang benar, dapat ditinjau dari berbagai segi. Perihal utama yang menjadi senternya, selain sepakterjang mumpuni dan kualitasnya juga melalui pemikiran atau ideologi yang menjadi senjata figur tersebut. Pasalnya, manusia bersikap sesuai dengan pemahaman atau pemikiran yang diadopsinya. Baik fisik maupun lisan. Nah, di dunia ini, terdapat tiga ideologi yang mendominasi, yakni Ideologi Sosialis atau Komunisme, Ideologi Sekuler atau Kapitalisme, dan Ideologi Islam.

Tela'ah kritis dari ketiga ideologi tersebut telah dilakukan oleh berbagai ilmuwan sejak era kelahiranya. Ideologi Sosialis-Komunisme telah nyata ancaman bagi negeri ini. Hal tersebut telah menjadi pemahaman umum masyarakat dan terlebih lagi kalangan mahasiswa. Belum lagi, diperkuat lagi dengan ketetapan MPRS Nomor XXV/MPRS/1966 Tahun 1966 yang melarang ideologi tersebut dianut ataupun dikembangkan. Meski demikian, dapat disaksikan bersama bahwa paham komunisme masih merambah dunia mahasiswa. Oleh karena demikian, kesadaran atas kesesatan pemikiran komunisme tidak boleh ditumbuhkan. 

Selain itu, terdapat pula Ideologi Sekuler-Kapitalisme yang sangat berbahaya bagi kelembagaan mahasiswa. Sebab, prinsip mahasiswa yang mengemban ideologi ini semata menjadikan kepemimpinannya jembatan untuk mendapatkan materi. Jika orang-orang yang berpemikiran seperti itu, yang memimpin suatu kelembagaan tingkat mahasiswa di Stikes Yahya Bima, tentu, ia akan menjadikan lembaga tersebut sebagai sarana memenuhi nafsu materinya yang rakus. 

Ada yang lebih istimewa dan sempurna menurut kaidah Islam, pengembanan Ideologi Islam oleh figur memiliki perbedaan yang sangat signifikan dari ke dua pemikiran Sosialis-Komunisme maupun Sekuler-Kapitalisme. Prinsip mahasiswa yang menjadikan Ideologi Islam sebagai pusat pergerakan adalah ibadah pada setiap aktivitasnya. Allah berfirman "Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk mengabdi, kepada Allah," (Qs.Az-Zariyat : 56). Karenanya, kekuatan Ideologi Islam mengokohkan idealisme yang diperjuangkan dan tidak ada kompromi dengan kebatilan. Baik rayuan maupun materi, dari mafia atau pun birokrasi yang menjadi jongos perpanjangan tangan penguasa yang tirani. 

Sementara, hari ini, sangat banyak  penguasa yang menggunakan birokrasi kampus untuk kepentingan tertentu.  Oleh karena itu, memilih pemimpin dengan lembaga yang berkarakter Ideologi Islam adalah tujuan utama, dalam rangka mengabdi kepada Allah. Mahasiswa yang seperti demikian, berjuang semata-mata demi integritas dan kemajuan lembaga dan pastinya bermuara akhir pada tujuannya, ialah menggapai ridho Allah SWT.(*)

(*Penulis adalah Mahasiswa Semester III Stikes Yahya Bima)
×
Berita Terbaru Update