Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Balita Meninggal di Perjalanan Rujukan, Akses Jalan Rusak dan Tidak Ada Ambulans di Desa Terpencil Kabupaten Bima

Sabtu, 14 Februari 2026 | Februari 14, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-02-14T11:22:59Z


Kabupaten Bima, Sinarntb.com – Keterbatasan fasilitas kesehatan di wilayah terpencil kembali memakan korban. Seorang balita laki-laki kembar berusia lebih dari dua tahun dilaporkan meninggal dunia saat dalam perjalanan rujukan menuju Puskesmas (PKM), setelah sebelumnya mendapatkan penanganan awal di Pustu desa setempat, Kamis malam.

Berdasarkan keterangan tenaga kesehatan yang bertugas, kedua balita datang ke Pustu sekitar pukul 15.00 WITA dengan kondisi membutuhkan penanganan medis. Petugas segera memberikan pertolongan pertama dan melakukan observasi selama kurang lebih satu jam.

Namun kondisi salah satu balita tidak menunjukkan perkembangan. Petugas kemudian meminta persetujuan keluarga untuk dilakukan rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap.

Kendala besar muncul karena desa tersebut tidak memiliki ambulans. Upaya mencari kendaraan pengganti juga terhambat akibat kondisi jalan berlumpur. Empat kendaraan yang hendak membantu evakuasi dilaporkan terjebak di jalan rusak dan tidak dapat melanjutkan perjalanan.

Sekitar pukul 22.00 WITA kondisi pasien semakin kritis sehingga petugas memasang oksigen sambil menunggu kendaraan. Baru pada pukul 23.00 WITA kendaraan berhasil tiba di Pustu dan pasien langsung diberangkatkan menuju PKM dengan kondisi jalan sangat buruk dan gelap.

Perjalanan rujukan berlangsung lambat karena medan rusak parah. Sekitar pukul 01.30 WITA, sebelum tiba di fasilitas kesehatan tujuan, pasien dinyatakan meninggal dunia di perjalanan. Petugas dan keluarga kemudian memutuskan kembali ke desa.

Peristiwa ini menjadi potret nyata masih minimnya sarana kesehatan dasar di wilayah terpencil Kabupaten Bima, khususnya ketiadaan ambulans desa serta infrastruktur jalan yang tidak memadai. Kondisi tersebut dinilai sangat berisiko bagi pasien gawat darurat yang membutuhkan penanganan cepat.

Masyarakat berharap pemerintah daerah segera menyediakan ambulans desa dan memperbaiki akses jalan menuju fasilitas kesehatan agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin dengan alat yang ada, namun keterbatasan fasilitas membuat kami tidak mampu berbuat lebih,” ungkap salah satu tenaga kesehatan dengan penuh haru.

Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa keselamatan pasien di daerah terpencil sangat bergantung pada kesiapan fasilitas, bukan hanya kemampuan tenaga medis.

Red
×
Berita Terbaru Update