Notification

×

Iklan

Iklan

Literasi, Mahasiswa dan Cinta

Rabu, 31 Agustus 2022 | Agustus 31, 2022 WIB | 0 Views Last Updated 2022-09-01T02:50:04Z

Dokumen pribadi Arif Sofyandi (Istimewa)

SinarNTB.Com - LITERASI merupakan penentu sebuah peradaban. Maju mundurnya suatu bangsa bergantung pada perkembangan literasinya. Sebagai contoh misalnya, budaya-budaya literasi Yunani masih hidup sampai sekarang karena kuat budaya literasi mereka di masa lampau. 

Sering kita temukan, nama-nama sekaliber dunia seperti Dascrates, Socrates, Aristoteles dan Plato masih tetap eksis namanya sampai hari ini. Walaupun mereka telah tiada namun karya pemikiran pasti abadi selamanya.

Dengan demikian, apabila kita mengambil pelajaran dari peradaban di Era para ilmuwan tersebut maka akan ditemukan bahwa setiap aktivitas mereka tidak pernah terlepas dari mengaji teks-teks lama yang hidup sebelumnya dan tentu yang tidak dapat dipisahkan adalah dari fenomena yang terjadi zamannya.

Indonesia, sebagai negara yang berkembang harus mengambil pelajaran peradaban dari sana. Karena itu, budaya literasi di kampus-kampus tidak boleh berhenti sampai di ruang-ruang kelas. Mahasiswa harus terus menghidupkan budaya literasi di luar ruang-ruang kelas, hingga di lingkungan sosial yang lebih luas. Karena kebenaran tekstual yang didapatkan di ruang kelas harus diuji dengan kebenaran kontekstual. Dengan kata lain, kebenaran teori harus dibuktikan dengan kebenaran praktis.

Lebih daripada itu, bahwa mahasiswa selain memiliki tanggung jawab akademik juga memiliki tanggung jawab sosial. Karenanya, mahasiswa harus memiliki pengetahuan yang lebih agar mampu menghadirkan sekaligus memberikan warna baru dalam kehidupan sosial.

Setiap ada problematika dan dinamika sosial yang terjadi, mereka harus hadir dalam memberikan pencerahan serta gagasan yang jernih tanpa ada pengaruh dari unsur apapun. Mahasiswa yang seperti ini, dapat dikategorikan sebagai mahasiswa yang idealis.

Mahasiswa tidak hanya menyandang gelar sebagai "Mahasiswa" saja. Tetapi harus benar-benar memberikan kontribusi yang nyata bagi diri dan lingkungan sekitarnya. Jika mereka mampu memberikan warna dalam berbagai bentuk aktivitas intelektual atau literasi berarti mereka telah menjadi bagian penting dalam mewariskan budaya literasi pada peradaban hari ini.

Literasi tidak hanya berbentuk dan terbatas pada budaya membaca, menulis dan berdiskusi tetapi ide, gagasan, tindakan dan gerakan merupakan bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dari budaya literasi. Karenanya mereka yang mengambil bagian dalam menyampaikan aspirasi, kritik hingga solusi adalah bagian dari mewarisi literasi bagi peradaban.

Mahasiswa harus mampu menemukan cintanya. Bukan berarti cinta kepada seorang perempuan. Tetapi cinta pada budaya literasi. Jika mereka telah mampu menemukan cintanya maka dapat dipastikan bahwa ia telah menemukan jati dirinya.

Oleh karena itu, manusia dan pembangunan apapun di lingkungan sosial akan lebih tertata dan terpelihara. Bebas dari unsur korupsi, kolusi dan nepotisme. Sebab berbagai unsur itu, tidak pernah mengenal cinta. Tahu kenapa? Karena konsep cinta selalu menghadirkan kedamaian, kebahagiaan, kesetaraan dan keadilan.

Pasalnya, konsep orang-orang yang mempraktekkan korupsi, kolusi dan nepotisme justru berbanding terbalik dengan budaya literasi. Sebab berpotensi dapat merusak dan menghancurkan peradaban. Alasannya sederhana, karena mereka tidak pernah mengenal cinta. Oleh sebab itu, sampai kapanpun dan di manapun mereka tidak akan pernah mampu mewujudkan kedamaian, kebahagiaan, kesetaraan dan keadilan.

Karena itu, mahasiswa tidak boleh jauh dari budaya literasi agar mereka menemukan jati diri, cinta dan kebahagiaan dalam hidupnya. Tidak hanya itu, mereka turut berkontribusi membangun bangsa dan peradaban ini. Apalagi hanya sekedar mencari cinta seorang perempuan. Bukan berarti tidak boleh, tetapi ada saatnya. Hari ini, sibukkanlah diri dengan berorganisasi bukan sekedar masuk tetapi belajar dengan baik.

Belum lagi, jika memahami kondisi bangsa sekarang, banyak orang yang tengah menjerit dengan kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan masyarakat. Terlebih masyarakatyang tidak mampu. Karena itu, sekarang, tugas mahasiswa adalah pelajari dengan baik, berbasis kajian yang ilmiah, buatkan naskah akademi, bergerak, galang kekuatan dan buktikan kepada dunia bahwa kalian ada di antaranya. Selamat mewarnai dan mewarisi peradaban ini.


Penulis : Arif Sofyandi

(Dosen Universitas Pendidikan Mandalika Mataram)
×
Berita Terbaru Update