Narasi dari Al Faruq, Ketua Umum HMI Cabang Kabupaten Bima
BIMA – Menapaki usia ke-79 tahun, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dihadapkan pada momentum penting untuk merefleksikan perjalanan dan menyusun langkah menuju satu abad keberadaan. Didirikan pada 5 Februari 1947 di Yogyakarta oleh Lafran Pane beserta 14 mahasiswa Sekolah Tinggi Islam lainnya, organisasi ini lahir dari semangat revolusi dengan tujuan mempertahankan kemerdekaan dan memurnikan ajaran Islam dari kejumudan.
Dalam narasinya, Ketua Umum HMI Cabang Kabupaten Bima, Al Faruq, mengungkapkan bahwa awal berdirinya HMI diwarnai tantangan eksistensial dan fisik, di mana kader harus siap memegang buku dan senjata sekaligus melawan agresi penjajah dan infiltrasi ideologi asing. Namun seiring waktu, ancaman bergeser dari eksternal ke internal. Pada 1960-an, HMI hampir dibubarkan, namun bertahan berkat dukungan masyarakat yang kuat. Di era pasca-reformasi hingga 2026, ancaman terbesar justru datang dari zona nyaman dan pragmatisme kadernya sendiri.
Bedah Anatomi Kemunduran Berdasarkan 44 Indikator
Al Faruq mengacu pada karya Prof. Agussalim Sitompul berjudul "44 Indikator Kemunduran HMI" sebagai cermin bagi organisasi. Menurutnya, penyakit utama HMI adalah pemudaran tradisi intelektual, terlihat dari diskusi yang lebih fokus pada strategi pemenangan posisi ketimbang pembahasan substansial khittah perjuangan atau analisis kebijakan publik ilmiah.
Krisis literasi menjadi akar dari berbagai kemunduran, termasuk hilangnya independensi berpikir yang memicu ketergantungan pada patronase politik atau budaya "Kanda-Dinda". Hal ini membuat organisasi berisiko kehilangan otonomi untuk kepentingan praktis jangka pendek. Krisis keteladanan di tingkat kepemimpinan juga menjadi poin penting yang perlu diperbaiki.
Membangun Kemandirian sebagai Fondasi Utama
Tema "Membangun Kemandirian, Meneguhkan Peran Keummatan dan Kebangsaan" dalam Milad ke-79 diartikan sebagai upaya reorientasi. Al Faruq menjelaskan bahwa kemandirian harus diwujudkan melalui dua aspek utama: ekonomi dan mentalitas. Secara ekonomi, HMI harus mengembangkan kader menjadi teknokrat, pengusaha, dan ilmuwan yang menguasai sektor produktif, sehingga tidak lagi hanya dikenal sebagai "produsen aktivis politik". Kemandirian finansial akan melahirkan keberanian moral dalam mengoreksi ketidakadilan.
Secara mentalitas, kemandirian berarti memutus budaya menghamba pada senioritas yang tidak sehat, mendorong pemikiran orisinal, dan menempatkan kebenaran objektif di atas solidaritas kelompok buta.
Meneguhkan Peran Keummatan dan Kebangsaan Menuju Indonesia Emas 2045
Peran keummatan HMI harus lebih dari sekadar aktivitas keagamaan formal. Organisasi harus hadir sebagai pemecah masalah bagi umat yang menghadapi kemiskinan, ketertinggalan pendidikan, dan polarisasi ideologis, serta menjadi integrator untuk pemberdayaan ekonomi dan literasi digital. Kader juga harus menjadi garda terdepan dalam membela hak-hak mustadh'afin.
Di sisi kebangsaan, HMI harus mempersiapkan kader untuk menguasai kompetensi masa depan seperti kecerdasan buatan, ekonomi hijau, dan kebijakan publik berbasis data, dengan mengedepankan kepentingan negara di atas kepentingan sektoral.
"Usia 79 tahun adalah momentum bagi HMI untuk melakukan 'taubat nasuha' organisatoris. Dengan mengakui kemunduran dan berkomitmen pada kemandirian, HMI dapat menjadi kekuatan transformatif yang setia pada janji pengabdiannya kepada umat dan bangsa," pungkas Al Faruq. Bahagia HMI, Jayalah HMI. Yakin Usaha Sampai.
Red
