Notification

×

Iklan

Iklan

Paling Banyak Koleksi Lontar Bersejarah, Museum NTB Tantang Guru Sejarah Jadi Alih Bahasa

Minggu, 08 Januari 2023 | Januari 08, 2023 WIB | 0 Views Last Updated 2023-01-09T20:40:42Z


Mataram, SinarNTB.com - Kepala Museum Negeri NTB, Ahmad Nuralam, memberikan sambutan pada Dialog Sejarah yang dirangkai dengan pelantikan Pengurus AGSI Provinsi NTB di Museum Negeri NTB, Sabtu (7/1/2023).

Peradaban NTB masa lalu masih banyak yang menjadi misteri. Banyak peristiwa-peristiwa bersejarah yang masih belum terungkap hingga saat ini. Namun, peristiwa masa lalu masih menyisakan banyak peninggalan yang hanya menjadi koleksi dan belum mampu mengungkap secara utuh peristiwa bersejarah di NTB pada masa lalu.

Salah satu peninggalan bersejarah yang hingga kini masih banyak belum terungkap adalah isi lontar yang banyak menjadi koleksi di Museum Negeri NTB. Jika isi lontar ini bisa dibaca diyakini akan mampu mengungkap seperti apa peradaban NTB di masa lalu.

Terkait hal ini, menurut Kepala Museum Negeri NTB Ahmad Nuralam, S.H., M.H., membuat Perpustakaan Nasional hadir bekerja sama dengan Museum Negeri NTB untuk melakukan digitalisasi dan alih bahasa. Hal ini didasari dengan ilmu pengetahuan masa lalu yang ada di lontar dalam berbagai bahasa, yakni Sansekerta, Jejawen, bahkan Sastra Dontal dari Pulau Sumbawa terkait adat istiadat, struktur pemerintahan dan lainnya.

“Kalau ada guru sejarah yang memiliki kemampuan untuk alih bahasa silakan bekerjasama. Kami akan siapkan honor atau pembiayaannya,” ungkapnya saat menjadi pembicara dalam Diskusi Sejarah dengan tema “Museum NTB yang Kreatif, Inovatif dan Kolaboratif Menuju Museum Digital NTB Gemilang “ dan Pelantikan Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) NTB Museum Negeri NTB, Sabtu, 7 Januari 2023. Hadir juga Presiden AGSI Dr. Sumardiansyah Perdana Kusuma, M.Pd., dan anggota AGSI Provinsi NTB.

Menurutnya, setelah dialihbahasakan, pihaknya akan menyusun menjadi sebuah karya sastra dan akan diterbitkan. Pihaknya berharap dengan banyaknya naskah lontar yang dialihbahasakan akan memberikan nilai tambah yang positif. Nilai tambah ini tidak hanya bagi penulis juga bagi Museum Negeri NTB.

Dalam hal ini, bebernya, Museum Negeri NTB ingin naik status, sehingga mampu setara dengan museum - museum tidak hanya di level provinsi, tapi level nasional. 

Untuk menuju prestasi tersebut, kata dia, tidak bisa hanya dilakukan sendiri oleh Museum Negeri NTB. Tetapi harus bekerja sama dengan banyak pihak, salah satunya AGSI Provinsi NTB. Untuk itu pihaknya menargetkan pada tahun ini keberadaan museum bisa berubah dan menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Di sisi lain, pihaknya berusaha memfasilitasi semua stakeholder di tengah keterbatasan. Apalagi salah satu visi misi museum adalah sebagai jendela ilmu pengetahuan dan budaya. Pihaknya juga sudah berdiskusi dengan jajaran museum bagaimana menjadikan museum sebagai fasilitas dalam memberikan penjelasan tentang kejadian masa lalu pada masyarakat ataupun para wisatawan.

Sebelumnya, Ketua AGSI Provinsi NTB Baiq Laela Aprianna, menegaskan komitmen pihaknya yang akan terus mendukung program pembangunan yang ada di daerah ini. Termasuk bagaimana siswa bisa memahami tentang berbagai sejarah NTB di masa lalu melalui peninggalan sejarah yang ada sekarang ini.

Sebagai guru sejarah, dirinya ingin terus belajar dan memahami tugasnya sebagai pengurus AGSI NTB dan menjadi penggerak di kalangan guru sejarah lainnya. Diakuinya, kesuksesan ini tergantung dukungan dari pengurus AGSI lainnya, baik di level provinsi hingga pusat.

Selain itu, ungkapnya, saat dipanggil Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTB Dr. H. Aidy Furqan beberapa waktu lalu, dirinya sempat ditanya mengenai tujuan dan ke mana guru sejarah di NTB ini mau dibawa. Untuk itu, pihaknya berharap kepada anggota AGSI bekerja sama membangun NTB melalui sejarah dan bangga dengan profesi sebagai guru sejarah.

Sementara Presiden AGSI Sumardiansyah Perdana Kusuma menekankan pentingnya kendaraan dalam mencapai alat perjuangan. Bahkan, beberapa tokoh pendiri bangsa di masa lalu memiliki kendaraan masing-masing dalam mencapai tujuannya. Begitu juga dengan guru sejarah memiliki kendaraan lewat AGSI untuk memperjuangkan aspirasi para guru sejarah.

Sementara itu, beberapa waktu lalu, ujarnya, pernah ada wacana mata pelajaran (mapel) sejarah akan dihilangkan dari sekolah, bahkan menjadi mapel pilihan. Hal ini tentu kurang menguntungkan bagi posisi guru sejarah, karena berpengaruh terhadap karir ke depan. Namun, karena perjuangan yang dilakukan AGSI dan juga PGRI membuat Pelajaran Sejarah masih tetap dipertahankan.

Pasalnya, melalui organisasi diharapkan berpengaruh pada kesejahteraan guru dan poin bagi guru untuk meraih jenjang yang lebih tinggi. Pihaknya mengharapkan guru-guru sejarah di NTB juga mengajak siswanya untuk datang ke museum dan mencatat koleksi yang ada, sehingga bisa mengetahui sejarah masa lalu.(*)


Penulis : Nanang Sofian Putra
Editor    : Ahmadiansyah
×
Berita Terbaru Update