Notification

×

Iklan

Iklan

Mendidik Generasi Ala Wahyudin Yusuf

Kamis, 29 September 2022 | September 29, 2022 WIB | 0 Views Last Updated 2022-09-30T05:22:30Z

Wahyudin Yusuf, Dok (Istimewa)
Penulis : Wahyudin Yusuf

Kabupaten Bima, SinarNTB.Com - Mendidik generasi tidak sekedar melontarkan kata dan kalimat "menyuruh" dan "melarang" terhadap sesuatu namun esensi mendidik yaitu  menunjukan pribadi yang luhur, kompetensi diri dan berjiwa besar.

Pribadi yang luhur, bermaksud ada harapan pembentukan karater dari masyarakat sosial atau siapaun itu, tidak memandang kelas, status sosial, sehingga terbangun jiwa sosial dan spiritualnya dalam mencounter aktifitas-aktivitas yang di luar dari regulasi.

Kompetensi diri bertujuan untuk menanamkan nilai keilmuan atau istilah sedehananya ialah "memberikan pemahaman" terhadap sesuatu yang menjadi titik keinginan. Baik personal maupun secara kelembagaan. Tanpa itu, Visi yang dibangun tidak akan mungkin dapat dicapai karena keputusan yang tidak rasional dan terukur sudah pasti di luar keilmiahan.

Tetapi, yang tidak kalah penting adalah berjiwa besar. Dalam perspektif ini, tidak sedikit yang beranggapan bahwa berjiwa besar itu, identik dengan keberanian dan ketegasan.

Saya katakan tidak.! Karena keberanian dan ketegasan itu adalah bagian dari karakter seseorang bisa saja bawaan sejak lahir atau genetik dan bisa juga terbentuk dari lingkungan sosial.

Pasalnya, dalam kajian Kepemimpinan yang saya pelajari, dua karater itu masih dominan menarik simpatik rakyat dan lebih cenderung masuk pada kalangan-kalangan nasionalis.

Karena itu, jika dibedah lebih dalam maka akan ada irisan yang berbeda jika kita bangun kajian terhadap perbedaan kelas dalam hidup bermasyarakat. Seperti itulah pandangan kelas menengah kebawah, atas ataupun pandangan para kalangan ustadz dan ulama.

Sementara, Berjiwa besar yang saya maksud adalah "SIKAP KSATRIA" seseorang dalam menerima segala yang berdampak padanya. Ketika bersalah misalnya, yang bersangkutan harus jantan dan mengakui yang telah diperbuat.

Begitupun sebaliknya, ketika benar, harus mampu menceritakan secara rasional. Beritahu ke generasi perjalanan hidup anda, referensikan ke mereka karena inilah bentuk dari pendidikan yang sesungguhnya.

Banyak contoh kasus yang bisa diambil dalam hidup dan kehidupan ini, walaupun melihat era modern sekarang, satu hal ini agak sulit ditemukan di sekitar kita. Sekali lagi, "BUKAN" tidak ada!.

Itulah kenapa, dalam Kajian Tauhid (Agama) orang lebih menaruh simpati pada yang berjiwa besar ketimbang yang menunjukan Ego. Sebab, akan menghalangi dan merusak tatanan yg sedang dan telah dibangun, apalagi yang sedang direncanakan.

(*Penulis adalah Dosen STKIP Al-Amin Dompu)
×
Berita Terbaru Update