Notification

×

Iklan

Iklan

Kemerdekaan, Seremonial dan Visi Kebangsaan

Rabu, 17 Agustus 2022 | Agustus 17, 2022 WIB | 0 Views Last Updated 2022-08-17T09:26:45Z


Mataram, SinarNTB.Com - Tepat pada tanggal 17 Agustus Tahun 2022 hari ini, rakyat indonesia kembali memperingati hari kemerdekaan yang ke-77. Peringatan hari kemerdekaan tentu, tidak hanya sekedar perayaan ceremonial saja, tetapi harus dimaknai secara sadar dan seksama bahwa kemerdekaan tidak hanya diraih begitu saja. Tetapi ada banyak perjuangan yang telah lalui, pengorbanan yang telah dituai, dan visi besar kebangsaan telah dititi oleh para pahlawan negeri ini.

Sebut saja, Jenderal Sudirman, yang telah berjuang melawan para penjajah dari belanda setelah memutuskan perang gereliya saat Agresi Militer II Belanda. Bahkan ia keluar masuk desa dan hutan, sekaligus menyerang dan menghindar dari pasukan belanda. Namun yang lebih mengiris hati lagi adalah, ternyata saat itu, ia sedang mengidap penyakit Tubercolosis (TBC).

Bisa dibayangkan bukan? Bagaimana ia berperang, memimpin pasukan dengan penyakit yang didetiranya yang sangat parah. Begitu pula dengan Muhammad Hatta atau biasa dikenal dengan Bung Hatta yang melakukan diplomasi luar negeri demi mempertahankan kemerdekaan dan mendapatkan pengakuan dunia. Walaupun ia melakukannya di tengah ancaman militer belanda tetapi ia berhasil memanfaatkan sekutu sebagai pemenang perang Dunia II.

Demikian pula dengan H. Agus Salim yang mewakili indonesia dalam perundingan antara indonesia dengan belanda, untuk membahas konflik pasca kemerdekaan. Ia juga menjadi panitia sembilan dan merumuskan dasar negara, serta pernah ditunjuk sebagai delegasi indonesia dalam sidang Dewan Keamanan PBB di Lake Succes New York.

Bukti bahwa indonesia dari setiap generasi memiliki para pejuang yang memiliki visi yang besar dalam menjadikan bagsa indonesia menjadi bangsa yang beradab, berdaulat adil dan makmur. Karena itu, Bung Tomo dari Surabaya, meneriakkan Allahu Akbar adalah bukti bahwa ia menanamkan dan menebarkan nilai-nilai ke beradaban, kedaulatan, keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat indonesia.

Merdeka Bukan Sekedar Seremonial Saja

Bicara mengenai kemerdekaan, tentu tidak berhenti pada seremonial belaka. Memakai baju berwarna merah putih, mengikuti upacara kemudian selesai dan satu persatu pulang ke rumah masing-masing. Atau merayakannya dengan gerak jalan ria. Merdeka tidak hanya sekedar itu, tetapi merdeka adalah mewujudkan nilai keberadaban, kedaulatan, keadilan dan kemakmuran. Bagi diri sendiri, terlebih bagi keluarga, lingkungan dan bangsa indonesia.

Kalau kita bicara mengenai keberadaban, ada satu hal menarik yang terjadi di Kabupaten Bima. Dalam perayaan hari kemerdekaan ada kegiatan lomba gerak jalan. Ini bagus untuk perkembangan suatu bangsa, namun ada hal yang menodainya. Dan ini menjadi catatan penting dalam kehidupan bernegara. Apa yang menodainya?

Ya, yang menodai kegiatan tersebut adalah adanya para waria yang ikut serta dalam melakukan kegiatan tersebut. Hal ini menodai nilai-nilai keberadaban tidak hanya Bima sebagai suatu daerah, tetapi Indonesia sebagai suatu bangsa. Karena itu, Pemerintah Daerah harus segera mengevaluasi kegiatan tersebut jika daerahnya tidak ingin dicap sebagai daerah yang tidak beradab.

Kedaulatan bangsa ini belum sepenuhnya, sebab kebijakan-kebijakannya masing tergantung pada negara-negara lain. Salah satunya ada vaksinasi dari china yang tentunya hal ini membuktikan bahwa kedaulatan bangsa dalam bidang riset masih belum memadai. Karena itu, ia menggunakan produk luar negeri.

Belum lagi mengenai keadilan.
Biasanya erat kaitan dengan persoalan hukum. Dan bangsa ini tengah menghadapi cobaan yang begitu besar. Kasus pembunuhan yang diduga dilakukan oleh Kadiv Propam, Ferdy Sambo terhadap anggota kepolisian Brigadir Joshua menjadi cacatan penting bagi penerpan keadilan negeri ini. Hingga 31 orang anggota polisi diduga telah melakukan pelanggaran kode etik karena berkonspirasi dalam kasus kematian bribadir Joshua. Kita tunggu, dan semoga hasilnya tidak membuat keadilan di negeri ini semakin tergadai.

Mengcreate Generasi yang Memakmurkan

Dari berbagai perjuangan, pengorbanan, visi kebangsaan dari para pejuang hingga berbagai polemik yang terjadi di daerah hingga pusat hari ini, tentu menjadi catatan berharga bagi seluruh anak yang terlahir di negeri ini. Seharusnya mereka masing-masing memiliki tanggung jawab dalam mewujudkan cita-cita dan visi kemerdekaan dari para pendahulu.

Karena itu, hari ini kita butuh para anak muda yang memiliki nafas perjuangan nan heroik seperti Jenderal Soedirman, Muhammad Hatta, Agus Salim, Bung Tomo dan lainnya. Bukan mengcreate generasi yang sekedar memfungsikan Gadget sebagai tindakan yang kontra produktif. Yang pada akhirnya merusak dirinya sendiri. Tetapi bisa memanfaatkan Gadget sebagai sarana untuk berkarya, dalam bidang apapun.

Didik mereka dengan baik dan bijaksana, mulai dari rumah, sekolah hingga perguruan tinggi tentu dengan kurikulim yang menerapkan nilai-nilai keberadaban, kedaulatan, keadilan dan kemakmuran. Tinggal diderivasi dan dipastikan masing-masing kebutuhannya. Mulai dari keluarga yang mengerti konsep itu, guru yang diangkat, hingga dosen dan para pemimpin yang memahami konsep tersebut.

Sehingga tidak ada nilai yang dapat kita temukan dalam kehidupan berkeluarga, bersekolah, berpendidikan tinggi, bermasyarakat dan berbangsa indonesia kecuali mereka yang mengerti dan memahami konsep berkeadaban, berdaulat, adil dan makmur bagi seluruh rakyat indonesia. Karena itu, Allah SWT menyebutkannya dalam qur’an “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti kami akan limpahkan kepada mereka berkah dari langit dan dari bumi,” (Al-Araf : 96).


Penulis : Arif Sofyandi

(Dosen Universitas Pendidikan Mandalika Mataram)
×
Berita Terbaru Update