Notification

×

Iklan

Iklan

Childfree dan Cara Islam Memandang Anak

Senin, 27 Februari 2023 | Februari 27, 2023 WIB | 0 Views Last Updated 2023-02-28T00:29:48Z


Oleh: Nurmia Liana*

Memiliki anak adalah suatu kebahagiaan yang sangat ditunggu-tunggu dalam keluarga, khususnya bagi suami-istri yang belum memiliki anak, karena kehadirannya menambah keceriaan dalam hati seseorang. Bagaimana tidak!, dari rumah yang awalnya hening tanpa kehadiran seorang anak namun ketika ia hadir ke dunia dalam pelukan sang ibu, kini terdengar suara bising yang kebanyakan orang sangat menanti dan merindukan suara itu. Suara tangisan bayi namun mampu merubah bibir seseorang tersenyum bahagia.

Anak adalah anugerah serta amanah yang dititipkan kepada sang ayah dan ibu – yang harus mereka jaga dan rawat dengan penuh kasih saying. Jika mereka berhasil merawat amanah itu sampai anak tersebut terdidik menjadi anak yang sholeh dan sholihah maka kata Allah, jaminan untuk orang tua tersebut adalah syurga, dijauhkan dari api neraka dan dia akan berada pada barisan Rosulullah SAW pada hari kiamat.

Dikisahkan Abdullah bin Abbas (ra dengan dia), Nabi SAW bersabda, "Siapa yang memiliki anak perempuan, dia tidak membunuhnya dengan dikubur hidup-hidup, tidak menghinanya, dan tidak lebih mengutamakan anak laki-laki, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga”. (HR. Ahmad).

Dalam hadits lain Rasulullah SAW juga bersabda, “Siapa yang diuji dengan kehadiran anak perempuan, maka anak itu akan menjadi tameng baginya di Neraka.” (HR. Ahmad).

Pada fitrahnya sepasang suami istri pasti mengidam-idamkan kehadiran seorang anak, karena salah satu tujuan dari menikah adalah untuk mendapatkan keturunan yang baik-baik agar bisa menjadi penerus yang mungkin terhadap cita-cita orang tua yang dulu belum sempat terwujudkan oleh mereka. Sehingga dengan adanya anak tersebut agar sekiranya bisa mencapai apa-apa yang dicita-citakan oleh orang tua yang dulu sempat tertunda karena suatu dan lain hal, dan atau mungkin harapan-harapan para orang tua lainnya.

Dari sekian banyaknya kisah para orang tua yang begitu menginginkan kehadiran seorang anak dalam hidup mereka, melakukan ikhtiar apapun hanya untuk bisa segera memiliki momongan, namun ada sebagian orang yang sepakat untuk tidak memiliki seorang anak (childfree) dikarenakan banyak kekhawatiran-kekhawatiran yang muncul dalam benak mereka, di antaranya karena takut cepat tua, takut badannya rusak, takut tidak bisa mengurus anaknya dengan baik dan berbagai kekhawatiran lainnya.

Jika berkaca pada Islam, tentu pemikiran tersebut sangat bertolak-belakang dengan ajaran Islam, Islam mengajarkan jangan terlalu mengkhawatirkan masa depan karena Allah lah yang mengatur semuanya, masa depan itu milik Allah, biarlah Dia yang mengatur dengan baik skenario-Nya. Namun yang harus kita percaya, sungguh yang berada disisi-Nya jauh lebih baik dari apa yang kita rencanakan, dan yang perlu kita lakukan adalah berusaha melakukan semaksimal mungkin apa yang menjadi urusan atau tugas kita sekarang.

Pemikiran untuk tidak memiliki anak (childfree) bagi sepasang suami istri sangat bertentangan dengan ajaran Islam, karena Rosulullah SAW sudah memerintahkan kepada kaum laki-laki untuk memilih perempuan yang subur dan memiliki banyak anak untuk dijadikan seorang istri, karena Rosulullah SAW akan membangga-banggakan golongan mereka.

Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: “Nikahilah wanita yang penyayang lagi memiliki banyak keturunan. Maka sesungguhnya aku akan berbangga-bangga dengan banyaknya kalian di depan umat lainnya pada hari Kiamat.” (HR. Abu Daud, An-Nasa`i dan Ahmad, dan sanadnya shahih).

Dari sabda Rasulullah SAW tersebut maka pemahaman tentang childfree sangat bertentangan dengan ajaran Islam karena memiliki anak adalah impian semua orang yang sudah berumah tangga sekaligus menjadi investasi akhirat yang bisa menghantarkan orang tuanya ke surga.

Jika bercermin dari kisah para Nabi, Nabi Zakaria misalnya; beliau adalah utusan Allah SWT yang mendapatkan keturunan di usia senja, namun beliau tak pernah berputus asa dengan pengharapan dan do'a agar Allah segera memberikannya keturunan, atas sabar dan keteguhan hati beliau dalam berdo'a maka Allah memberikannya kabar gembira yakni atas kelahiran seorang anak yang langsung diberi nama Yahya oleh Allah SWT – yang kemudian dikenal sebagai Nabi Yahya setelahnya.

Kisah tersebut diceritakan dengan indah oleh Allah SWT dalam surat Ali Imran ayat 38, di mana Nabi Zakaria berdoa: "Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa".
Lalu Allah mendengar do'a tersebut dan menjawab doa Nabi Zakaria. "Wahai Zakaria! Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki namanya Yahya, yang Kami belum pernah memberikan nama seperti itu sebelumnya" (Q.S Maryam: 7).

Sebagai umat Islam yang mengaku beriman, kepada siapa lagi kita menjadikan kiblat untuk diikuti selain kepada para Nabi dan Sahabat terdahulu. Sekelas Nabi saja begitu menginginkan kehadiran seorang bayi untuk dijadikan penerus agar kelak bisa menjadi amal jariyah untuk orang tuanya ketika wafat, apalagi kita yang berstatus sebagai umat yang banyak dosa dan surga pun belum bisa menjamin mampu menampung kita atau tidak. Karenanya ikutilah apa yang diajarkan Nabi bukan mengikuti hawa nafsu belaka.

Suatu hal yang harus para orang tua ketahui bahwa memiliki anak itu bukanlah beban yang harus kita tunda atau tidak menginginkan akan kelahirannya, akan tetapi jika orang tua mampu merawat, mengajarkan dengan penuh kasih sayang serta membimbing anak untuk menjadi seorang anak yang taat pada agamanya maka Allah dan Rosul-Nya akan berbangga dan menjauhkannya dari siksa api neraka dan dimasukkan ke dalam syurga.
Wallahu'alam.


*(Penulis adalah alumni mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam UIN Mataram)

**Tulisan ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis, dan bukan dari tanggung jawab dari tim redaksi media SinarNTB.com
×
Berita Terbaru Update